“Ya, Ya… Nanti Disampaikan ke Reserse”
- Isi Komentar
TERDORONG rasa waswas oleh bunyi petasan di sekitar rumah, 30 September lalu pada pukul 16.30 WIB dan 19.10 WIB saya telefon kantor Polsekta Sukasari, Polresta Bandung Barat. Maksud saya ingin dibantu oleh polisi untuk menghentikan penyulut-penyulut petasan itu agar tidak mengganggu tetangga serta keheningan malam takbiran, dan lebih fatal akan bahaya kebakaran. Jawaban petugas (piket) yang pertama, “Ya… ya… ya….” Saya tanya, “Ya… ya… ya… apa, Pak? Ya, mau patroli?” (langsung saja saya tanyakan tentang apa yang saya harapkan, sambil menyebutkan nama dan alamat saya). Lagi-lagi dia menjawab, “Ya… ya… mau patroli. Apalagi ini malam takbiran.” Dengan harapan besar saya balas, “Terima kasih, saya tunggu di RT saya.”
Adapun tanggapan pada kontak yang kedua (pukul 19.10 WIB, setelah saya utarakan bunyi letusan petasan yang menjadi-jadi dan harapan saya, saat saya tanya nama petugas piket itu (namanya G), lantas dia menjawab, “Nanti akan disampaikan kepada (bagian) reserse.” Saya bertanya dalam hati apa tidak salah, ini kan urusan kamtibmas, bukan urusan kriminal.
Saya tunggu-tunggu sampai pukul 23.00 WIB. Boro-boro patroli, angin pet polisi saja yang menyapu pintu rumah saya tak ada, alias nol besar. Dalam pikiran saya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan, beginikah cara kerja polisi? Dari mulai ngomong “ya… ya… ya…” hingga “akan disampaikan ke (bagian) reserse” (?) Mana pertanyaan-pertanyaan yang strategis dari “jati diri” seorang polisi: 1. Nama dan alamat Bapak? 2. Dekatkah bunyi petasan-petasan itu dari rumah Bapak? 3. Setahu Bapak kapan saja bunyi petasan-petasan itu terdengar? (ini menyangkut intensitas untuk menilai gangguan letusan itu yang sudah keterlaluan), dll. Pertanyaan untuk mendapat jawaban untuk diolah dalam menyusun taktis dan strategis bila terjun ke lapangan. Saya kecewa. Agaknya skenario harapan saya terlalu sulit alias tidak nyambung dengan (petugas piket) di pos polisi itu.
Sebetulnya sehari sebelumnya saya juga telah menghubungi petugas khusus (untuk pengendalian dari ingar-bingarnya bunyi petasan yang disulut warga) di RW kami RW 10 Kelurahan Pasteur yakni Kapten Pol. DK. Akan tetapi, hingga 5 kali HP petugas itu, yang diberikan ketua RW, kami (saya dan anak saya) hubungi, tak sekali pun dijawab (nonaktif).
Menanggapi cara kerja polisi seperti itu, saya teringat kepada tulisan Kapolda Jabar Bapak Irjen Susno Duadji di harian ini dalam menyambut bulan suci Ramadan lalu. Tulisan itu pada intinya mengungkapkan keinginan Kapolda untuk mendapatkan petugas (kepolisian) yang al amin (predikat Rasulullah saw., artinya orang (figur) yanga dapat dipercaya). Pantaslah Kapoldanya sendiri yang membawahi, memanajemen ribuan personelnya di seluruh Jabar mengungkapkan keinginan seperti itu. Cetusan hati itu sekaligus mencerminkan kejujuran tentang kekurangan (baca: kelemahan) yang ada di tubuhnya sendiri. Tiga personel yang saya temui seperti di atas sudah mewakili kenyataan itu. Mulai dari petugas yang menyambut dengan “Ya… ya… ya…”, lalu yang akan meneruskan keluhan masyarakat kepada yang bukan bidangnya sampai kepada perwira yang seharusnya “stand by”, malah HP-nya tak bisa dihubungi, mencerminkan kelemahan itu. Padahal masyarakat membutuhkan polisi yang cerdas dan punya kepedulian. Oleh karena itu, melalui Bapak Kapolda saya usulkan kepada Bapak Kapolri, saat penerimaan anggota baru agar para pelamar dites IQ (intelligence quotient)/dalam hubungannya dengan kecerdasan serta EQ (emotional quotient)/dalam hubungannya dengan kepedulian dan (rasa tanggung jawab moral).
Terima kasih kepada “PR” yang telah sudi memuat tulisan ini.
F. Suratman
Jln. Sederhana III/171F
Bandung 40161
[ Sumber Pikiran Rakyat ]
