Turunkan Harga BBM Bersubsidi
- Isi Komentar
Harga minyak mentah sudah melorot ke angka 60 dollar AS per barrel. Tidak mustahil bakal turun lagi. ”Target kami harga minyak akan mencapai 50 dollar AS per barrel” ujar analis Deutsche Bank Michael Lewis, seperti dikutip Kompas (25/10). Bayangkan bedanya dengan harga tertinggi, yakni 147 dollar AS per barrel pada bulan Juni 2008.
Mengapa penurunan harga minyak mentah yang begitu besar, sekitar 60 persen dari harga tertinggi itu, belum membuahkan penurunan harga premium dan solar di Indonesia? Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, pemerintah tidak ingin menetapkan harga bahan bakar minyak yang berubah setiap hari karena akan membuat masyarakat bingung (Kompas, 25/10).
Bingung? Justru masyarakat yang bingung sekarang! Mengapa belum ada tanda-tanda pemerintah menurunkan harga jual minyak subsidi (premium dan solar), sementara harga dasarnya sudah menjadi sekitar Rp 5.000/liter. Jadi, tidak ada lagi subsidi, malah laba. Seharusnya pemerintah menurunkan dulu harga solar dari yang berlaku sekarang Rp 5.500/liter ke angka Rp 5.000/liter. Ini mengingat solar dikonsumsi oleh kebanyakan angkutan umum.
Penurunan solar akan langsung memberi manfaat bagi perekonomian nasional, terutama sektor riil, yang terpukul oleh krisis finansial yang melanda dunia sekarang. Selanjutnya pemerintah bisa menghitung lebih teliti, berapa penurunan harga premium. Kelak katakan harga minyak mentah menukik kembali ke atas dan melebihi 100 dollar AS per barrel, silakan pemerintah mengembalikan harga premium dan solar pada posisi sekarang.
Masyarakat pasti tidak bingung karena sudah menikmati harga lebih rendah selama beberapa waktu. Dibutuhkan transparansi dari pemerintah.
SUPARDI Kompleks Depdagri RT 012 RW 008, Duren Sawit, Jakarta
[ Sumber : kompas ]

