Transjakarta Hanya Janji, Penumpang Menumpuk
- Isi Komentar
Saya tiap hari menjadi penumpang bus transjakarta karena tertarik dengan janji Gubernur DKI bahwa transjakarta akan menyediakan pelayanan yang nyaman, tepat waktu, dan cepat. Ternyata setelah beberapa tahun janji yang dapat dinikmati warga masyarakat hanya cepat karena memakai jalur khusus.
Pelayanan nyaman dan tepat waktu hanya janji. Ini terbukti dengan kebijakan transjakarta jalur Ragunan-Dukuh Atas yang setiap sore saya lalui. Hampir setiap hari saya menunggu di Halte Departemen Pertanian dan hanya melihat tiga sampai lima bus transjakarta berlalu tanpa mengambil penumpang. Saat bus berikutnya datang, penumpang sudah menumpuk dan menyebabkan bus cepat penuh.
Bahkan, pada hari Selasa, 5 Agustus lalu sekitar pukul 17.40, saya menyaksikan delapan unit bus berlalu dengan kosong melompong tanpa berhenti di halte untuk mengangkut penumpang. Saat saya tanyakan kepada petugas halte, dijelaskan bahwa bus tersebut ”nembak” di Kuningan, tetapi saat saya tanyakan kepada bagian pengaduan, dijawab kemungkinan bus tersebut akan mengisi BBM dan ada juga yang mengatakan akan ”nembak” di tengah perjalanan dengan alasan bisa memperbesar kapasitas penumpang. Kedua alasan itu sangat mengada-ada.
Juga sering terjadi saat saya menunggu di Halte Departemen Pertanian, Jakarta Selatan, ada lima sampai delapan bus yang menuju halte terakhir, Ragunan, tetapi baru sekitar 10 sampai 15 menit bus pertama sampai di halte dan itu pun sering tidak mengangkut penumpang. Selang dua sampai tiga menit bus berikut, kedua atau sering juga ketiga, baru mengangkut penumpang.
Dengan kondisi tersebut kebijakan transjakarta membuat penumpang kehilangan kenyamanannya karena harus berdesak-desakan dan tidak tepat waktu, penumpang sering kecele dan hanya melongo saat bus melewati halte dengan kondisi kosong melompong.
Satriawan Mandala Tengah RT 007, Tomang, Jakarta
