PvJ atau JVP (”Just Valet Parking”)?
- 2 Komentar
PVJ (Paris van Java) adalah salah satu mal terbesar di Bandung, ramai dikunjungi terutama saat weekend.
Minggu, 26 Oktober 2008 siang, kami sekeluarga bermaksud untuk berbelanja di Paris van Java dengan membawa kendaraan roda empat. Setelah mengambil tiket parkir, saya sempat berputar-putar dua sampai tiga kali dan tidak mendapatkan lahan parkir.
Saya lihat ada lahan khusus bertuliskan valet parking resmi dan masih kosong.
Saya tidak parkir di valet dan turun lagi ke basement dan ada satu area kosong cukup luas yang hanya dibatasi oleh tali plastik (tidak profesional!). Tidak ada keterangan resmi untuk valet parking tapi menurut petugas di sana, area tersebut khusus untuk valet dan harus bayar Rp 15.000,00 lagi.
Saya sempat berargumentasi kenapa dalam kondisi penuh, area tersebut tidak dibuka untuk umum dan malah saya disuruh ke lantai parkir paling atas yang terbuka. Seolah-olah semua kendaraan dipaksa untuk menggunakan valet parking.
Akhirnya kami tidak jadi berbelanja. Dengan perasaan kesal dan kecewa dan memilih untuk pergi berbelanja ke mal lain.
Saya sempat berpikir kenapa pihak PvJ tidak tanggap untuk bisa mengatur masalah perparkiran.
Banyak pengunjung yang tidak mau/tidak rela harus keluar uang lagi hanya untuk valet parking sebesar Rp 15.000,00. Padahal, semua kendaraan yang masuk ke PvJ tetap harus bayar dengan harga parkir yang tidak murah (tarif parkir PvJ adalah salah satu yang termahal di Bandung). Kami merasa seperti dianaktirikan!
Apakah PvJ identik dengan JVP (just valet parking)?
Kepada “PR” kami ucapkan terima kasih atas dimuatnya keluhan kami ini.
Dede Harlan
Jln. H. Akbar No. 22
Bandung
[ Sumber : pikiran-rakyat ]
2 Komentar di Artikel ini
Trackbacks
-
Berfikirlah maju bilang:
Analoginya saya rasa seperti ini. Saya ambil contoh yang mudah Kereta Api Parahyangan.
PT. KAI memberikan pilihan kepada para calon penumpangnya. Kereta api Parahyangan dengan 2 kelas yang berbeda dalam satu keberangkatan dengan tujuan yang sama, yaitu bisnis (non AC) dan eksekutif (AC). Harga eksekutif tentunya lebih mahal karena tersedia AC, kursi yang lebih nyaman dan pelayanan ekstra yang tidak ditemui di kelas bisnis. Baik kelas bisnis dan eksekutif akan tiba berbarengan di tujuan. Kita yang (kebetulan) membeli tiket bisnis berdiri (karena sudah tidak tersedia tiket bisnis tempat duduk) tidak bisa begitu saja duduk di gerbong eksekutif (walaupun ada tempat yang kosong), padahal kita sudah membeli tiket peron dan tiket kereta api. Kita pun tidak bisa mengeluh (complain) kepada PT. KAI karena kita berdiri di gerbong bisnis padahal di gerbong eksekutif ada kursi yang kosong.
Pihak PVJ seperti halnya PT. KAI juga memberikan fasilitas tanpa memaksa kepada pengunjung untuk memakai jasa valet atau memarkirkan kendaraannya sendiri. Dikarenakan valet adalah sebuah fasilitas ekstra (tambahan), tentunya terjadi biaya tambahan yang harus dibayar oleh kita sebagai pengunjung. Demikian tanggapan saya, mohon maaf bila kurang berkenan.December 31st, 2008 di 12:28 am -
Pacamat bilang:
Terimaksih untuk “Berfikirlah maju” yg telah memberi komentar atas keluhan yg disampaikan oleh Sdr.Dede Harlan.
Dan semoga , tanggapannya dapat dijadikan masukan bagi pengunjung Pacamat lainnya..Salam
January 1st, 2009 di 4:01 pm

