Pesawat dengan Kaca Pecah
- Isi Komentar
Kejadiannya pada 21 Juli 2008 dengan penerbangan dari Bengkulu ke Jakarta. Setelah terbang sekitar 25 menit tiba-tiba ada suara ”kreg ” di luar pesawat dan disusul dengan suara bising di dalam pesawat. Saya langsung tekan tombol pesawat di atas kepala untuk memanggil pramugari/a. Penumpang di sebelah berlari ke depan untuk memanggil pramugari/a juga.
Saya dan penumpang lain memberi tahu bahwa kaca pesawat pecah. Kemudian empat pramugari melihat dan penumpang di depan juga bingung, lalu saya melarang mereka menyentuh kaca bagian dalam khawatir pecah karena perbedaan temperatur. Pramugari ke ruang cockpit dan kembali sambil mengatakan: ”Tiga puluh menit lagi kita mendarat dan kalau ada sesuatu cepat lapor.” Penumpang di sebelah bertanya, apa yang bisa dilakukan? Saya menjawab: ”tidak ada” dan ”berdoa saja kepada Yang Maha Kuasa supaya penerbangan ini selamat.”
Pada waktu pemerintah berusaha mencabut larangan terbang ke Eropa, di dalam negeri kejadian ini sangat menyedihkan keselamatan penumpang jadi taruhannya.
Pada waktu itu saya sempat bertanya, apakah tidak mendarat ke Palembang dulu dan cek pesawat apakah laik diterbangkan ke Jakarta. Sebab sekitar lima sampai dengan sepuluh menit bisa mendarat di Palembang.
Setelah kejadian tidak ada pemberitaan apa-apa. Saya merasa perlu sebagai pengguna jasa penerbangan Batavia Air (kursi nomor 10A—persis posisi kaca pecah) dijelaskan, apa sebenarnya yang terjadi.
Jebri Kartawidjaja Green Garden B IX RT 012/003, Kedoya Utara, Jakarta
