Pengalaman dengan Citilink Garuda
- Isi Komentar
Saya penumpang pesawat Citilink-Garuda (017) Jakarta-Surabaya (2/11) dan ada beberapa hal yang tidak lazim. Saya tahu penerbangan ini menerapkan sistem semua bagasi harus membayar, kecuali tas tangan maksimum lima kilogram. Karena di lembar tiket hanya tertulis ”The fee for Checked Baggage is IDR 5,000 per kg” tanpa ada keterangan jumlah maksimum. Ternyata memang tidak ada batas maksimum, jadi semua harus dikenai biaya.
Kurangnya informasi membuat banyak penumpang terkejut dan akhirnya daripada membayar bagasi, banyak yang membawa jinjingan ke kabin meski jumlahnya melebihi ketentuan. Hal ini yang menyebabkan saat boarding memakan waktu lama karena para penumpang mengatur bawaan kabin yang melebihi ketentuan. Seperti dua ibu di sebelah saya menghitung jinjingannya ada tujuh buah, dan sebagian ditaruh di kursi saya.
Pada saat membeli tiket di situs web ada pilihan memilih seat, tetapi pada saat check in tempat pilihan saya sudah diberikan kepada orang lain, jadi apa gunanya pilihan itu? Pesawat yang jadwalnya berangkat pukul 12.50 ternyata diumumkan kalau molor 30 menit dengan alasan keterlambatan pesawat datang dari Surabaya. Kenyataannya baru pukul 13.45 dipanggil boarding, dan itu pun harus lama antre karena para penumpang sibuk mengatur jinjingannya ke tempat bagasi kabin.
Dalam pesawat di kursi nomor 1 DEF (dekat pintu diisi satu keluarga ayah, ibu, dan satu anak). Padahal, kursi itu khusus pria dan dewasa karena dekat pintu. Seharusnya petugas check in sudah tahu, jadi tidak perlu pramugari sibuk memindahkan keluarga tersebut ke kursi lain.
Mohon Citilink lebih siap dan lebih memberikan informasi yang lengkap dalam situs web-nya kepada para calon penumpang, seperti informasi tentang terminal mana yang digunakan di Bandara Soekarno-Hatta. Ismu Sudiaswarin Jalan Padmosusastro 35, Surabaya
Sumber : [ kompas ]

