Pelayanan “Teller” BRI Mengecewakan
- Isi Komentar
PADA hari Senin tanggal 3 November, seperti biasanya di awal bulan saya memenuhi kewajiban membayar berbagai tagihan rekening listrik, telefon, tabungan, dan spp sekolah di beberapa bank berbeda. Setelah melakukan pembayaran di dua buah bank swasta, terakhir kurang lebih pukul 13.30 WIB, saya melakukan setoran tabungan di BRI Cabang Surapati. Selama kira-kira 20 menit menunggu giliran nomor urut saya dipanggil, saya menyaksikan pelayanan seorang petugas teller berinisial W sangat tidak ramah. Seorang ibu yang akan menyetorkan sejumlah uang diomeli karena uangnya tidak rapi, lalu dia menyuruh si ibu tersebut untuk membereskan uangnya dengan bapak satpam yang bertugas.
Kalau bahasanya ramah dan sopan mungkin tidak jadi masalah, karena memang uang yang berantakan akan menyulitkan teller untuk menghitung. Akan tetapi, bahasa yang dipakainya sungguh tidak enak didengar. Dia memanggil satpam, lalu dia bilang pada ibu tersebut, “Sana Ibu beresin dulu uangnya sama Pak Satpam”. Setelah itu dia melayani nasabah lain yang juga menyetorkan uang cicilan sesuatu. Saya lihat sebelum menyetor, nasabah tersebut meminta bantuan CS untuk pengisian formulir. Mungkin ada kesalahan pengisian form dan nasabah tersebut menyampaikan bahwa dia dibantu oleh CS.
Teller tersebut menegur CS yang bersangkutan tanpa beranjak dari tempat duduknya, otomatis suaranya agak keras dan terdengar oleh seluruh nasabah yang sedang menunggu. Ironis sekali pemandangan yang saya saksikan setelah saya dilayani di dua bank swasta, yang rata-rata petugas teller-nya muda-muda, cantik, dan berpenampilan rapi serta ramah. Yang menyapa semua nasabah dengan selamat pagi, selamat siang atau apa yang bisa saya bantu? Diakhiri dengan ucapan terima kasih. Akan tetapi, sang teller BRI jangankan menyapa selamat siang atau apa yang bisa dibantunya, tersenyum pun tidak, bahkan penampilannya pun jauh dari rapi. Dengan blazer yang dipakainya tampak kesempitan sehingga pada saat saya dilayani juga olehnya, saya melihat pemandangan yang kurang berkenan. Karena kesempitan, kancing blazernya merekah dan menampakkan bagian tubuhnya. Padahal saya lihat, lebih dari setengah nasabah yang sama-sama sedang menunggu adalah orang-orang usia lanjut. Tidak bisakah dia bersikap lebih menghargai nasabah? Minimal bersikap menghargai pada orang-orang lanjut usia?
Sungguh sangat ironis sekali, mengingat slogan BRI saat ini kalau tidak salah adalah “melayani dengan setulus hati”. Mungkin sudah saatnya teller tersebut diberikan penyuluhan apa arti sesungguhnya dari slogan melayani dengan setulus hati. Demikianlah pengalaman saya di BRI Cabang Surapati selama tidak lebih dari setengah jam. Kepada Redaksi “PR”, terima kasih atas dimuatnya surat ini, semoga dapat bermanfaat bagi pihak yang bersangkutan. Wassalam.
Wieda Dewi
Jln. Ligar Ayu No. 16 RT 02 RW 06
Cibeunying - Cimenyan
Bandung
[ Sumber : pikiran-rakyat ]

