
Menteri Marah Diperiksa Alat Detektor, Ajudan Panik
- Isi Komentar
Sepulang menikmati liburan akhir pekan panjang di Bali, kami sekeluarga pulang ke Jakarta menumpang pesawat melalui Bandara Internasional Ngu- rah Rai, Bali, Minggu (23/3) sekitar pukul 13.00 Wita. Antrean memasuki area check in bandara belum disesaki calon penumpang dan kami yang membawa dua anak kecil mengantre sebelum masuk ke dalam.
Namun, tiba-tiba tepat di sebelah kiri rombongan kecil kami datang seseorang berkemeja putih, yang mungkin ajudan orang penting, mendekati petugas dan kami mendengar bisikan bahwa ia bersama seorang menteri sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan menuju antrean. Maksudnya agar sang menteri tidak perlu bersusah payah mengantre.
Istri saya yang sedang memperlihatkan empat tiket kepada petugas di pintu masuk sambil memegang tangan anak yang berusia empat tahun dikagetkan oleh calon penumpang di belakangnya yang terlihat melenggang sambil berkata ”Permisi! Permisi!” dan tak sengaja mendorong tas istri saya sehingga istri saya terpaksa menepi dan memberi jalan kepada calon penumpang yang tak lain adalah seorang menteri.
Seperti di bandara mana pun, tentunya tanpa kecuali, semua penumpang diharuskan melewati ”pintu deteksi” yang didahului dengan memasukkan barang bawaan ke dalam pemindai sinar-X. Jika berbunyi, petugas akan memeriksa calon penumpang tersebut dengan menggunakan alat detektor portable untuk memastikan semua penumpang tidak membawa barang yang membahayakan. Namun, terlihat terjadi keramaian di depan pintu deteksi antara seorang petugas wanita dan si menteri.
Sepertinya menteri itu tidak dapat menerima bahwa ia harus diperiksa dengan alat tersebut karena rupanya alarm berbunyi saat dia melewati pintu deteksi. Dari belakang saya, sekonyong- konyong ajudan melejit mendekati petugas dengan menyelonong antrean dan mengatakan, ”… Itu Pak Menteri….” Namun, petugas yang mungkin memang menjalankan tugasnya dan tidak mengenali menteri itu tetap meminta untuk si menteri diperiksa dengan detektor. Namun, si menteri terlihat murka dan terdengar membentak serta menanyakan nama petugas tersebut. Sementara ajudan menteri panik. Ini jadi tontonan menarik di bandara.
Arief Baharsan Jalan Gandaria RT 6 RW 2, Jagakarsa, Jakarta











