Listrik Rumah Sakit Tria Dipa Padam
- Komentar
Pada 18 September 2008 ayah kami meninggal dunia di RS Tria Dipa, Jakarta Selatan. Bagi kami, itu takdir. Kami ikhlas menerimanya. Yang kami sesali, ayah kami tidak dirawat dan dilayani dengan baik oleh dokter maupun suster di rumah sakit itu.
Kekecewaan kami dimulai sejak membawa beliau ke Bagian unit gawat darurat (UGD) sehari sebelum meninggal. Pasien yang sangat kesakitan karena tidak bisa (maaf) buang air besar selama tiga hari tak segera dilayani. Justru disepelekan petugas UGD.
Alasan suster di UGD: dokter sedang shalat. Kami menunggu tanpa mendapat pertolongan pertama apa pun. Mereka malah sibuk menyuruh keluarga pasien menyelesaikan urusan administrasi terlebih dulu dengan sikap yang tak bersahabat. Bahkan, saat keluarga meminta tolong agar salah satu dari mereka bisa menyampaikan kepada dokter yang sedang shalat itu keadaan pasien yang tergolong kritis, mereka malah balik membentak keluarga dengan mengatakan: ”Nanti juga dokternya datang sendiri, sabar aja kenapa.”
Mereka malah asyik mengobrol soal rencana buka puasa. Saat itu kami masih mengelus dada dan mencoba bersabar diri, apalagi saat itu masih berpuasa. Setelah menunggu hampir setengah jam tanpa pertolongan, ayah kami akhirnya masuk ruang UGD. Dugaan kami betul: penyakit yang dialami ayah sudah tergolong gawat. Saat itu juga ayah harus dirawat inap.
Kekecewaan kami berubah menjadi marah karena RS Tria Dipa tidak serius melayani pasien. Itu terbukti pada padamnya listrik rumah sakit. Ini fatal. Setidaknya tiga kali RS mengalami listrik padam. Listrik padam dua kali ketika pasien dirawat inap dan satu kali ketika sedang mendapat perawatan di ruang ICU.
Mengherankan, kenapa rumah sakit sebesar itu tidak memerhatikan masalah seperti ini. Ternyata padamnya listrik bukan kesalahan PLN, tetapi faktor internal: MCB berulang kali turun dan ternyata genset (sumber listrik cadangan) tak berfungsi otomatis karena akinya lemah dan belum diperbaiki. Dimas Fuady Jalan Waru VII, Cengkareng, Jakarta
[ Sumber kompas ]
1 Komentar di Artikel ini
Trackbacks
-
diko bilang:
hmmm
masa sih kaya gytu? saya sudah sering berobat ke triadipa ga kaya gytu ah . ramah2 kok. waktu itu teman saya juga pernah jam 3 pagi ke tria dipa , tapi ditangani dengan baik kok.December 4th, 2008 di 6:30 pm
