Kemiskinan di Bandara dan Arogansi Pejabat
- Isi Komentar
Hari Jumat sore, 11 Juli 2008, saya mengantar rombongan mahasiswa dan mahasiswi UI yang akan mengikuti World Youth Day 2008 di Sydney, Australia. Kebetulan anak saya salah satu anggota rombongan tersebut.
Sambil menunggu di terminal keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya menghitung ada lima pengasong yang datang menawarkan kepada saya parfum, bolpoin, dan kacamata. Lalu, saya lihat juga ada anak remaja tanggung berpakaian lusuh menawarkan jasa semir sepatu. Saya menyaksikan pula dua pemuda pemulung jalan melenggang di dalam terminal, yang satu membawa tas plastik besar hitam dan satunya memungut gelas plastik bekas lalu diberikan kepada rekannya. Mereka bercelana panjang dan berkaus putih seadanya.
Dalam hati saya gemas juga melihat semua itu terjadi di bandara internasional negara kita. Namun, kemudian saya berpikir, itu semua akarnya karena kemiskinan. Selama para petinggi negara ini yang mengurusi bangsa kita ini hanya memikirkan dirinya sendiri, orang-orang miskin papa berkeliaran di mana-mana, bahkan sampai di ”pintu gerbang” negara tercinta ini.
Gambaran kalau berkuasa mau enaknya sendiri itu nyata terlihat pada tingkah laku petinggi bermobil dikawal dua sepeda motor besar di jalan tol menuju bandara. Hari itu ketika menuju Bandara Soekarno-Hatta, saya dipaksa minggir oleh sepeda motor pengawal yang zig zag untuk lewat sang pejabat. Saat itu lalu lintas sangat padat saya sendiri pun sedang panik takut terlambat check in. Salah satu pengawal yang berpistol di pinggangnya melotot dan menuding-nuding kepada saya. Mau tidak mau saya terpaksa mengalah.
Ini contoh perbuatan kecil pejabat yang tidak punya rasa empati sama sekali kepada orang lain, mau menang sendiri, sewenang-wenang, serakah, dan arogan.
Bhima Setya Budhy Jalan Taman Melati, Jatimakmur, Bekasi
