Siapa Bisa Usir Kelelawar di Sekolah Kami?
- Isi Komentar
SAYA adalah Kepala Sekolah di SDN Kiangroke III Banjaran-Bandung, yang terletak di pinggir Jalan Raya yang menghubungkan Kec. Banjaran dan Kec. Pangalengan. Sekolah kami berdiri sejak 1986 dan merupakan SD Inpres pertama di Kec. Banjaran yang berlantai dua.
Bila dilihat dari luar, sekolah kami kelihatan megah dan asri. Tak ada yang menduga, kalau di dalamnya terdapat “penyakit” menahun yang tidak kunjung “sembuh”.
Entah sejak kapan secara pasti mulainya dan apa sebabnya, atap sekolah kami dihuni binatang kelelawar (lalai). Populasinya berkembang dengan cepat dan sampai sekarang sudah berjumlah berapa ribu ekor.
Setiap hari kami “dihibur” dengan suara “ricit” di atap dan “disuguhi” bau tidak sedap yang menyengat hidung dari kotoran kelelawar tersebut. Keadaan ini sangat mengganggu konsentrasi belajar anak dan mengganggu kesehatan pernapasan kami, guru, dan siswa. Terlebih pada musim hujan mungkin karena basah, baunya bertambah lagi. Bahkan, bukan sekali dua kali internit ambrol menimpa kelas, karena terlalu berat menahan kotoran tersebut dan pernah juga menimpa siswa yang sedang belajar. Kami khawatir, suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan dan berakibat fatal bagi siswa.
Selama ini, kami tidak tinggal diam berbagai upaya telah dilakukan secara swadaya. Di antaranya:
1. Tahun 2001, kami membersihkan kotoran kelelawar dari atap, sampai terkumpul 25 karung lebih. Oleh masyarakat digunakan untuk pupuk.
2. Memasang lampu pijar yang sangat terang di atap baik siang maupun malam, dengan harapan “mereka” akan merasa enggan tinggal di tempat yang terang, serta mengganti beberapa genting dengan kaca dengan harapan yang sama.
3. Beberapa kali dilakukan fogging (pengasapan).
4. Bahkan, atas saran dari berbagai pihak kami memanggil ustaz dan “orang pintar”, untuk mengusir/memindahkan kelelawar itu dari atap sekolah kami, ke tempat yang tidak menganggu aktivitas manusia. Tapi, semua usaha itu tidak ada hasilnya atau hanya beberapa saat saja pergi, lalu datang lagi membawa “pasukan” yang lebih banyak.
Ada yang menyarankan agar atap/internitnya dihilangkan saja. Tapi, dari mana kami punya dana sebanyak itu? Untuk meminta bantuan dari orang tua siswa, tidak tega. Karena, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah dirasakan berat.
Melalui Surat Pembaca ini, kami mengetuk hati pihak yang berwenang atau siapa saja yang peduli pada persoalan ini, untuk mengulurkan tangan membantu meringankan “penderitaan” kami, apa pun bentuknya.
Kepada Redaksi “PR” saya ucapkan terima kasih atas dimuatnya surat ini. Semoga “PR” tetap menjadi pilihan pembaca yang cerdas.
Hj. Siti Sugesti, S.Pd.
Kepsek SDN Kiangroke
Banjaran, Bandung
