Kartu Permata dan Danamon
- Isi Komentar
Beberapa bulan lalu seorang pria menawarkan kartu kredit atas nama
Bank Permata lewat telepon. Seperti biasa, saya menolak pembicaraan
karena tidak berminat. Setelah telepon ditutup, orang tersebut dengan
tidak profesional menelepon kembali, ”Kalau kartu kredit Bank Danamon
bagaimana?” Tentu saja saya tolak penawaran tersebut.
Beberapa
hari kemudian seorang pria mendatangi rumah saya untuk memverifikasi
bahwa saya telah mengajukan kartu kredit Bank Permata. Setelah bertanya
tentang saya, istri saya menolak bahwa saya mengajukan aplikasi
tersebut karena saya memang tidak pernah mengajukan.
Pada tanggal
21 Mei 2008 seorang pria datang membawa tagihan kartu kredit Bank
Permata sebesar Rp 1,9 juta. Orang tersebut menolak memberikan tagihan
dan meminta pembayaran dalam bentuk tunai. Istri saya menolak karena
saya dan istri tidak memiliki kartu kredit Bank Permata. Ketika diminta
tagihannya sebagai bukti, orang tersebut tidak bersedia memberikan dan
untuk meyakinkan, dia mengatakan bahwa saya bekerja di PT Wahana Tata.
Pada
tanggal 10 Juni 2008 pukul 21.30 dan 12 Juni 2008 pukul 18.30 saya dan
istri diteror oleh orang-orang yang mengaku berasal dari Bank Danamon
Syariah. Pada awalnya mereka hanya menawarkan produk Bank Danamon
Syariah. Ketika kami tidak menanggapi, mereka mulai mengeluarkan
ancaman akan mengirim debt collector ke rumah.
Terakhir pada
tanggal 14 Juni 2008 sekitar pukul 11.30, seseorang yang menurut
catatan keamanan Regensi Melati Mas, Serpong, Tangerang, bernama Yoes
Fandi (Nomor KTP: 367 113 1106 730001 dengan alamat Gg Subur RT 002 RW
001, Kelurahan Larangan Utara, Kecamatan Larangan, Tangerang) datang
menagih mengatasnamakan Bank Danamon. Kami hanya diberikan surat
pemberitahuan yang menyebutkan, kartu atas nama Achbar (Nomor Kartu:
5240 6400 0333 8003) dengan jumlah tagihan Rp 9.142.000, field
collector Pandi: HP 0888 1509853.
Wiwi Widjaja Regenci Melati Mas Blok F 10/20, Serpong, Tangerang
