Jebakan Makan ala KA Bima
- Isi Komentar
Pada Sabtu, 18 Oktober 2008, untuk kali pertama, dengan pertimbangan kenyamanan, saya menumpang Kereta Api Bima untuk pulang ke Purwokerto, Jawa Tengah. Selepas dari Stasiun Gambir, Jakarta, saya langsung tidur. Sekitar satu jam kemudian saya dibangunkan oleh petugas restoran yang menyodorkan sepiring daging dan minuman. Saya terima makanan itu karena berpikir merupakan layanan makan malam yang disiapkan PT Kereta Api.
Beberapa saat setelah saya merampungkan makan, datang petugas lain yang mengharuskan saya membayar daging dan minuman tersebut. Aneh rasanya: saya merasa tidak memesan, tetapi disuruh membayar. Saya melihat beberapa penumpang juga mengeluhkan hal serupa. Petugas hanya menjawab sekadarnya. Saya maklum petugas itu hanya pegawai yang menjalankan pekerjaan, bukan pengambil kebijakan, untuk menjebak penumpang yang ”dipaksa” membayar makanan yang tak ia pesan.
Manajemen PT KA harus mengubah kebijakan cara berjualan. Sebaiknya ada petugas yang berkeliling terlebih dahulu menawarkan menu di luar paket layanan makan malam, mencatat pesanan penumpang, baru kemudian mengantar makanan kepada para pemesan. Dalih bahwa sebelumnya sudah diumumkan di TV kereta api—makan malam berupa paket nasi dan di luar itu bukan—tidaklah tepat.
Apakah manajemen PT KA yakin seluruh penumpang mendengar pengumuman itu? Saya rasa tidak semua penumpang menyimak karena sebagian masih sibuk menata barang, mengobrol, atau langsung tidur seperti saya. Wahyu Djatmiko Perum Mutiara Pratama D 12, Purwokerto, Jateng
[ Sumber kompas ]

