Jauhkan Sikap Anarkistis
- Isi Komentar
PERASAAN, baru kemarin kita selalu meneriakkan kalimat-kalimat “mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan” sebagai yel-yel pemersatu dan pembakar semangat teman-teman aksi mahasiswa yang satu tujuan menentang rezim penguasa dan menginginkan perubahan di Indonesia tercinta. Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan kota-kota lainnya semua bersatu dengan pikiran dan emosi untuk… reformasi!!
Sepuluh tahun lebih setelah aksi ‘98 yang membawa Indonesia ke jalur perubahan. Mahasiswa kembali ke kampus untuk menjalankan tugas utamanya, menuntut ilmu setinggi mungkin untuk bekal di hari kelak. Pikiran-pikiran dan aksi kritis mahasiswa masih tetap terdengar di seluruh Indonesia. Memang mahasiswa diharapkan menghasilkan pemikiran yang bermanfaat ataupun berfungsi sebagai dinamisator untuk mengawal perubahan Indonesia supaya tidak kebablasan dan tetap di jalur yang benar.
Yang sangat membuat hati ini teriris, melihat persatuan dan kesatuan yang sejak dulu dibina mulai luntur, aksi kita dulu bervisi sama sekarang terpecah dengan kepentingan ataupun pikiran yang berbeda. Aksi yang membela pihak satu, bentrok dengan pihak lain. Aksi demo dengan pamrih sudah bukan rahasia lagi, menjadikan demo sebagai jualan. Aksi mahasiswa terdompleng partai politik ataupun calon kepala daerah. Aksi-aksi tersebut berpotensi memecah belah persatuan mahasiswa. Mahasiswa dengan bakal kayu ataupun batu berjuang di jalanan melawan mahasiswa lagi.
Mau di bawa ke mana masa depan bangsa ini bila calon pemimpinnya senang tawuran. Tidak layak berstatus mahasiswa apabila sikap masih seperti preman terminal. Tidak pantas mahasiswa dengan kontrol emosi seperti anak SMP atau SMA dengan embel kenakalan remaja. Mahasiswa mestinya telah tumbuh dewasa dengan pikiran panjang dan stabilitas emosi yang terjaga, lebih menggunakan pemikiran dan bukan kekuatan otot.
Kadang di rumah guyon dengan istri yang kebetulan dulu satu kampus di Purwokerto, tentang kenangan zaman pergerakan ‘98. Bagaimana dia yang nyungsep di sawah menghindar gas air mata dan kejaran aparat. Ataupun, saya dengan perlengkapan sepak bola untuk pelindung tulang kering, kaca mata renang dan air bersih yang disiapkan di botol bekas air mineral untuk menghadapi gas air mata. Itu semua untuk berjuang melawan penguasa dan bukan menghantam teman seperjuangan sesama mahasiswa.
Kesempatan ini saya mengajak kepada adik-adik untuk kembali menjadi mahasiswa yang profesional dalam hal menuntut ilmu. Tanggung jawab kita adalah membangun bangsa dengan ilmu yang kita miliki. Mari kita kuatkan persatuan dan selalu ingat moto “Mahasiswa bersatu tidak bisa dikalahkan”. Jauhkan sikap anarkistis dan selalu berpikiran jernih dalam menyelesaikan masalah ataupun menyalurkan aspirasi. Jauhi narkoba dan terus memperkuat keimanan kita. Ayo kita berusaha kibarkan Sangsaka Merah Putih dan kumandangkan Indonesia Raya di segala event di dunia untuk memupuk kecintaan dan rasa memiliki terhadap Indonesia dan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia ada dengan masyarakatnya yang ramah antikekerasan. Ayo kita bangun ekonomi, politik, sosial, ataupun budaya Indonesia.
Di akhir tulisan ini, mohon maaf ke semua adik-adik mahasiswa bukan maksud menggurui, tetapi ini hanya ajakan dari mantan mahasiswa kepada adik-adik yang sedang menuntut ilmu di mana pun berada.
Kepada Redaksi “PR”, terima kasih atas segala perhatiannya dengan dimuatnya tulisan ini, karena ini menjadi nostalgia ketika tulisan-tulisan saya sewaktu masih SMA ataupun semasa kuliah sering dimuat di “PR” dan itu sering menjadi sarana perjuangan ataupun warna aspirasi yang berbeda dengan yang lain.
Terima kasih….
Windhu Tresna Wulandhani, S.E., M.P.
Jln. Pagar Betis 27 Sumedang
Jawa Barat 45315
e-mail: astrazingga4@yahoo.com
[ Sumber Pikiran Rakyat ]











