Dec 25 2009

Negosiasi Uang Tebusan Barang di Bandara


Saya adalah pengimpor sepatu dari China. Awalnya semua kiriman selamat sampai di rumah. Bea masuk terbesar sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000 dan selalu saya bayar.

Namun, sejak awal Desember 2009, saya diperlakukan seperti mesin ATM di bagian Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, gudang pos. Mereka tak segan-segan menelepon saya yang sedang hamil muda untuk datang sendiri ke bandara dan negosiasi uang tebusan barang.

Selama bulan Desember 2009 sudah lebih dari dua kali saya bolak-balik ke bandara dari Bekasi. Awal bulan Desember, setelah proses tawar menawar yang alot, akhirnya diturunkan harga bea masuk menjadi Rp 1 juta dari Rp 1,3 juta untuk 100 pasang sepatu. Bahkan, salah seorang petugas meminta sepasang sepatu sebagai pelicin. Namun, ketika surat panggilan lewat pos datang keesokan harinya, jumlah yang tertulis Rp 1.115.000.

Sebetulnya, apa dasar hitung-hitungan bea masuk ini? Saya didesak agar menyediakan invoice agar harga bea masuk tidak ada tawar menawar.

Saat ini saya bingung harus menebus 30 pasang sepatu yang masih tertahan. Semua sepatu dipesan dari penjualan online dengan sistem pre-order dan sudah dibayar lunas.

Mirza Jakasampurna, Bekasi

Dec 22 2009

Perlukah Mal di Arcamanik?


Berita bahwa di Lapangan Pacuan Kuda Arcamanik akan dibangun sebuah mal, sangat mengagetkan dan membuat saya bertanya-tanya. Apa sebenarnya rencana dari Bapak Wali Kota Bandung dalam menangani ruang terbuka hijau vs bangunan komersial?

Bagaimana rencana pembangunan Bapak itu jika dikaitkan dengan rencana pembentukan ruang terbuka hijau? Bukankah Kompleks Arcamanik itu kawasan residensial yang seharusnya asri, nyaman, hijau, dan berfasilitas sesuai dengan lingkup warganya?

Mengapa alternatif dari sepinya pacuan kuda Arcamanik dengan membangun mal? Bukankah tanah terbuka dan hijau di Bandung sangat minim dan mal sudah menjamur?

Sementara itu, dua mal yang berlokasi dekat Arcamanik dan berada di jalan utama kota yang seharusnya mudah diakses oleh pembeli justru cenderung sepi. Jika maksud dibangunnya mal itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Arcamanik, keperluan sehari-hari rasanya sudah terpenuhi dengan kehadiran supermarket dan minimarket yang ada di dalam dan di sekitar kompleks.

Hal lain yang ingin saya ungkapkan adalah pentingnya arti lapangan terbuka bagi anak-anak. Sementara dari empat lapangan sepak bola, sekarang tinggal satu lapangan, yaitu yang berada di Pacuan Kuda.

Dari pengalaman pribadi saya, lapang terbuka itu merupakan tempat dan wadah yang baik dan beraspek positif, khususnya bagi anak-anak.

Namun, kami dan anak-anak Kompleks Arcamanik tidak bisa berbuat apa-apa ketika tiba-tiba dipancang tiang yang menandakan akan dibangunnya rumah di atas tanah lapangan sepak bola itu tanpa disertai kabar dan komunikasi apa pun.

Bapak selaku pembina persepakbolaan di Kota Bandung, sudah selayaknya melindungi dan mempertahankan lapangan-lapangan yang sudah ada. Apalagi dengan minimnya lapang sepak bola di sekolah-sekolah. Padahal, kecintaan anak-anak pada persepakbolaan dimulai dari ketersediaan lapangan di lingkungan tempat mereka tinggal. Begitu perlukah mal itu, Pak?

Terima kasih “PR” dan artikel digital indonesia , jaya selalu. Sumber PR

Edo Suryopratomo
Kompleks Arcamanik
Jln. Polo Air No. 8
Sukamiskin, Bandung
Telf. 022-92591197

TAGS: , ,
Dec 15 2009

Sikap Tak Simpatik Pramugari Lion

lion

Saya penumpang Lion Air tujuan Yogyakarta-Jakarta (JT 553) tanggal 27 November 2009. Teman saya mengalami kesulitan menaikkan koper berukuran kecil ke atas kabin karena barang- barang yang sudah ada lebih dulu berantakan. Kemudian saya meminta bantuan pramugari agar secara bersama-sama mengatur letak koper. Namun, pramugari hanya diam dan akhirnya salah seorang penumpang membantu.

Setelah itu, saya mengangkat tas bawaan dan mengarahkan untuk dimasukkan ke kabin. Namun, pramugari tersebut langsung menutup kabin. Padahal, masih ada ruang untuk meletakkan barang. Saya jelaskan bahwa saya ingin memasukkan barang, dan pramugari itu membuka kembali kabin dengan raut wajah tak bersahabat.

Setelah itu, saya dan teman duduk sambil memasang sabuk keselamatan. Teman saya berkata, ia heran mengapa pramugari tidak mau membantu. Kami terkejut ketika pramugari itu mendatangi kami sambil berkata dengan nada tinggi dan tidak sopan: ”Maaf ya Mbak, saya ini bukan tukang angkut barang.”

Pada saat mendarat, saya mengeluh kepada pimpinan pramugari terhadap tindakan anak buahnya yang berjanji akan menegur. Apakah pihak Lion Air tidak memberikan pendidikan dan pengarahan kepada para pramugari untuk bersikap santun, sopan, dan menghargai para penumpang?
Diamanta Elmira Kemang Pratama Regency Blok J, Rawalumbu, Bekasi

TAGS:
Dec 15 2009

Jadikan Pendidikan Antikorupsi Dalam Kurikulum Sekolah!

korupsi

Sejak pemerintahan SBY, pemerintah dengan lantangnya menyerukan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Lembaga yang dibentuk pemerintah yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), didirikan sebagai salah satu lembaga yang bertujuan memusnahkan korupsi yang terjadi dalam pemerintahan. Tidak pandang bulu merupakan prinsip KPK dalam memberantas korupsi. Maksudnya adalah siapa pun yang terkait kasus korupsi atau dicurigai melakukan korupsi akan diusut tuntas, termasuk presiden apabila terkait dengan kasus korupsi.

Pada 9 Desember lalu, kita peringati Hari Antikorupsi Sedunia. Semua orang turun ke jalan menyampaikan aspirasinya terhadap pengaruh korupsi bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Semua berharap, korupsi di negeri ini hangus terbakar sampai ke akarnya. Langkah itu tidak akan cukup untuk membuat para koruptor jera.

Pendidikan antikorupsi sejak dini sangatlah penting. Seharusnya pendidikan antikorupsi menjadi kurikulum dalam pembelajaran di sekolah. Karena Indonesia menjadi negara terkorup di dunia. Sungguh prestasi yang memalukan. Pendidikan antikorupsi memberikan pengaruh bagi siswa dari segi positifnya, yaitu bagaimana korupsi itu sangat merugikan negara dan masyarakat Indonesia.

Untuk mencegah korupsi, mulailah dari lingkungan paling kecil, yaitu keluarga. Orang tua hendaknya memberikan contoh terhadap anaknya, bagaimana menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak menumbuhkan rasa kekurangan dan selalu berusaha keras dalam mencari sesuatu yang bersifat halal.

Saya harap, pemerintah menjadikan pendidikan antikorupsi sebagai kurikulum dalam pembelajaran di sekolah. Saya sedih dengan keadaan bangsa ini. Korupsi menjadi pekerjaan yang “dihalalkan” di kalangan pejabat, sedangkan masyarakat semakin melarat.

Terima kasih kepada Redaksi “PR” dan artikel digital indonesia yang telah memuat surat saya. Semoga Indonesia menjadi negara yang besar dan bersih. Sumber PR

Wendi Windriana
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Unigal Ciamis
Kp. Singandaru RT 08 RW 11
Kawali Mukti
Kawali, Ciamis
Telf. (0265) 792298
085223097654

Dec 10 2009

Tertibkan Bobotoh Nakal!

bobotoh persib

Ketika saya pulang dari Ciwidey, Kabupaten Bandung, tepatnya di daerah Katapang, terjadi kemacetan yang luar biasa. Penyebabnya adalah banyak bobotoh Persib yang akan nonton ke Stadion Si jalak Harupat, yang membelokkan kendaraannya sembarangan dan memotong jalan sambil membunyikan klakson keras-keras. Akibatnya, jalanan jadi macet total karena ulah para bobotoh Persib tersebut.

Bukannya saya tidak suka Persib, tetapi kalau membuat jalan jadi tidak tertib seperti itu, rasanya jadi enggak sreg melihatnya juga. Bobotoh itu suporter yang santun, sehingga jangan membuat sesuatu yang kurang pantas dilakukan, seperti memotong jalan sembarangan dan seenaknya. Hal itu membuat para pengguna jalan yang lain termasuk saya jadi kesal.

Tolong kepada aparat kepolisian agar menertibkan para bobotoh yang suka seperti itu. Mari kita dukung Persib dengan cara yang kondusif dan tidak menggangu pengguna jalan yang lain.

Terima kasih atas dimuatnya surat ini, dan kepada artikel digital indonesia.
[ sumber PR ]

Feri Anugrah
Mahasiswa UIN SGD Bandung
Jln. A. H. Nasution No. 134
Cibiru, Kota Bandung

TAGS:
Dec 4 2009

Pembangunan SOR Gedebage

Gedebage

Saya merasa miris saat mendengar pemerintah merencanakan pembangunan Sarana Olahraga (SOR) Gedebage, Bandung, Jawa Barat, yang konon akan menghabiskan dana senilai Rp 350 miliar. Apakah pemerintah kita sudah tidak ada kepekaan untuk membedakan kebutuhan mana yang lebih penting dan mana yang masih bisa ditunda?

Mengapa pemerintah tidak mengutamakan pembangunan yang langsung berhubungan dengan kesejahteraan dan perekonomian rakyat banyak daripada hanya mendirikan sebuah sarana olahraga yang sifatnya hanya untuk sebagian kalangan? Padahal, Persib sudah memiliki Stadion Siliwangi, dan Stadion Jalak Harupat yang konon telah berstandar nasional dengan kapasitas 40.000 orang.

Sementara pembangunan di Bandung yang notabene untuk kepentingan orang banyak masih dirasakan hanya bagaikan jalan di tempat. Jalan-jalan masih banyak dalam keadaan rusak parah, beberapa titik sering terjadi banjir sehabis hujan akibat sistem drainase buruk, dan kemacetan hampir di semua tempat dirasakan.

Pembangunan jalan baru hampir tidak ada dan ribuan anak terjangkit gizi buruk berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat tahun 2008. Sebaiknya instansi terkait dapat lebih bijaksana untuk benar-benar mengelola anggaran yang telah dipercayakan oleh rakyat banyak. Terimakasih untuk artikel digital indonesia.

WILIET Kompleks Taman Sakura, Bandung, Jawa Barat

TAGS:
Copyright@PaCamat dan Design oleh Phillip van Coller