Saran untuk PMI
BARU-baru ini Bapak M. Yusuf Kalla sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) mengatakan, sampai akhir 2010, PMI dapat menampung empat juta kantong darah di seluruh Indonesia. Akan tetapi, sebegitu jauh tidak dijelaskan lebih terperinci, bagaimana caranya PMI dapat menampung empat juta kantong darah itu.
Sebagai orang awam, menurut hemat saya, PMI di bawah pimpinan Jusuf Kalla dapat bekerja sama dengan pimpinan televisi seluruh Indonesia untuk menayangkan pentingnya donor darah untuk disumbangkan kepada masyarakat yang memerlukannya. Tayangan televisi itu bukan berupa iklan dari PMI, tetapi promosi/informasi bersama antara PMI dan televisi.
Ditayangkan sedemikian rupa dan kalau perlu, didramatisir tayangan itu sehingga menyentuh hati pemirsa untuk menyumbangkan darahnya. Setelah melihat bagaimana penderitaan masyarakat yang menderita akibat kecelakaan kendaraan bermotor, gempa bumi, ditimpa tanah longsor, menderita berbagai penyakit yang memerlukan darah untuk menyambung hidup.
Tayangan ini sebaiknya dilakukan setiap hari pada jam-jam sibuk, sebagaimana kebiasaan televisi menayangkan azan Magrib dengan versi yang berbeda-beda. Palang Merah Indonesia tidak perlu membayar promosi/informasi ini, tetapi menjadi kewajiban televisi membantu PMI dalam usaha mendapatkan sumbangan/donor darah dari masyarakat luas. Begitu juga bank-bank pemerintah, bank-bank swasta, serta perusahaan, swasta setiap tahun menyisihkan keuntungannya untuk keperluan Palang Merah Indonesia. Kenapa tidak?
H. Slamet S.M.
Jln. Anggur Raya
EE2 No. 19
Sukatani Permai,
Cimanggis
Depok
Sumber: PR
Anak-anak Panti Mencari Setetes Kasih
SEJUMPUT harapan begitu binar bagi anak-anak duafa di mana pun berada, anak panti, anak jalanan, anak pemulung, anak gembala sampai anak yang ditelantarkan dan anak yang cacat sekali pun. Pemerintah telah membombardir semua kebutuhan dengan BOS (Biaya Operasional Sekolah) bantuan permakanan anak panti, pemberdayaan anak telantar, dan banyak program lain yang hanya menyentuh sebagian kecil anak duafa di negeri ini. Biaya sekolah gratis sampai SLTP (wajib belajar sembilan tahun) itu menurut iklan.
Sebuah ironi, sekolah gratis memang realita, di balik itu sekolah hanya mengharuskan siswa membeli LKS, membeli buku, iuran ini itu dan paling akhir biaya akhir pembelajaran yang tidak mungkin terlunasi bagi anak-anak duafa. Sekolah tidak hanya membutuhkan biaya untuk operasional sekolah, justru yang paling tidak terjangkau adalah biaya operasional anak untuk sekolah. Ke sekolah anak membutuhkan transportasi, seragam sekolah, kostum olah raga, batik sekolah, seragam pramuka, sepatu, dan dasi. Semua itu harus dibeli di sekolah.
Banyak anak-anak yatim, anak jalanan, dan anak duafa lain sampai anak dalam panti yang terpaksa DO (drop out) kelas 5 SD, kelas VIII SLTP, bahkan tinggal Ujian Nasional saja anak terpaksa DO karena tidak mampu membayar biaya akhir pembelajaran, seperti pengayaan, pra-UN, praktik UN, perpisahan, pelulusan, sampai kenang-kenangan untuk guru. Bagi sekolah yang mengerti keadaan anak duafa, anak binaan panti, anak binaan rumah perlindungan anak, bisa mengangsur dan tetap harus bayar.
Pembaca yang budiman, di lembaga kami ada lima anak yang akan mengikuti Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK. Sebelas anak UN tingkat SMP/MTs, delapan anak ujian SD/MI. Mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit dan dana pendidikan mereka selanjutnya ke jenjang lebih tinggi. Bantuan yang ada dari donatur untuk operasional panti dan rumah perlindungan, bantuan lain belum menyentuh. Bahkan, seorang anak cacat polio yang sekolah di SD Arjawinangun V kelas 5, belum mendapat sepatu bantu berjalan yang dibuat di Solo, sebagai pengganti yang tidak muat lagi. Karena harganya belum tersentuh, mencapai Rp 5,6 juta. Kasihan Sri Nurkhasanah tidak mampu berjalan, tetapi semangat belajarnya luar biasa.
Pembaca yang budiman, kami mencari setetes kasih di padang gersang donatur. Izinkan anak-anak duafa ini mengikuti Ujian Nasional. Izinkan mereka untuk mencapai harapan. Berikan mereka peluk kasih walau hanya koin-koin yang tersisa. Jangan buang pakaian layak pakai, sepatu, alat tulis yang tidak terpakai, tetapi masih layak dipakai. Kami akan membagikan untuk mereka. Jangan biarkan anak-anak duafa ini kembali ke jalan, berbondong-bondong ke kota. Berikan mereka setetes harapan untuk meraih masa depan. Mungkin Pak Gubernur memahami semua ini. Terima kasih pembaca Pikiran Rakyat yang budiman dan penuh kasih.
Ahmad Sodikin
Yayasan Al-Ikhlas
Jln. Kebon Balok 12
Arjawinangun
Kab. Cirebon 45162
Sumber : PR
Pertemuan Nasional di Hotel Sultan
Pada 3 Maret 2010 saya dan rekan-rekan Kepala Bappeda, Badan/Kantor Lingkungan Hidup Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia di undang untuk menghadiri pertemuan nasional yang diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Dalam Negeri, di Hotel Sultan, Jakarta.
Upacara pembukaan sangat meriah dan semua petugas keamanan hotel siaga penuh, setiap tamu undangan diperiksa dengan saksama. Namun, segala kemeriahan dan pengamanan superketat sirna ketika menteri selesai memberikan sambutan dan membuka pertemuan.
Pada pukul 12.32 WIB, sesi I selesai dan istirahat makan siang, suasana berubah menjadi mencekam, manakala sebagian peserta mengantre makan dan beberapa orang lain memanfaatkan kesempatan untuk mencuri notebook peserta yang sedang mengantre makan.
Sementara kondisi ruang pertemuan dibiarkan terbuka, tanpa pengamanan dari petugas keamanan dan panitia pelaksana. Kejadian ini saya laporkan kepada petugas keamanan dan koordinator panitia pelaksana, tetapi tidak mendapat tanggapan yang baik dari pihak manajemen hotel ataupun dari koordinator panitia pelaksana.
Azrin Jalan Drupada IX Nomor 7, Bogor
Harga Tiket Blitzmegaplex Dinaikkan
Blitzmegaplex selalu memberikan pilihan film-film alternatif yang bermutu. Salah satu film yang diputar di Blitz Pacific Place, Jakarta, adalah film Bollywood berjudul 3 idiots. Film ini sungguh menghibur dan bermuatan pesan moral yang baik mengenai pendidikan.
Begitu bagusnya film ini, untuk kedua kalinya saya menonton di akhir pekan dengan berhasil mengumpulkan 20 kerabat dekat untuk bergabung. Karena lakunya film ini, memang tiketnya selalu habis dan yang saya dengar sudah mengalami beberapa kali perpanjangan waktu.
Namun yang patut disayangkan adalah asas ”aji mumpung” yang diterapkan. Ketika film lain yang diputar, harga tiket Rp 50.000, khusus untuk film 3 Idiots diberlakukan harga tiket Rp 75.000. Semua kerabat memang tidak keberatan membayar, mengingat jarang hiburan lain yang ada di Jakarta.
Namun, mengingat film ini yang mengandung begitu baik pesan moral, agak membingungkan mengapa Blitzmegaplex mengambil kebijaksanaan dan pendidikan usaha yang melawan arus pesan film tersebut? Semua pegawai yang ada saat itu tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
Fajar Lukito Cikini Kidul RT 002 RW 002, Menteng, Jakarta
Source : kompas
Negosiasi Uang Tebusan Barang di Bandara

Saya adalah pengimpor sepatu dari China. Awalnya semua kiriman selamat sampai di rumah. Bea masuk terbesar sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000 dan selalu saya bayar.
Namun, sejak awal Desember 2009, saya diperlakukan seperti mesin ATM di bagian Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, gudang pos. Mereka tak segan-segan menelepon saya yang sedang hamil muda untuk datang sendiri ke bandara dan negosiasi uang tebusan barang.
Selama bulan Desember 2009 sudah lebih dari dua kali saya bolak-balik ke bandara dari Bekasi. Awal bulan Desember, setelah proses tawar menawar yang alot, akhirnya diturunkan harga bea masuk menjadi Rp 1 juta dari Rp 1,3 juta untuk 100 pasang sepatu. Bahkan, salah seorang petugas meminta sepasang sepatu sebagai pelicin. Namun, ketika surat panggilan lewat pos datang keesokan harinya, jumlah yang tertulis Rp 1.115.000.
Sebetulnya, apa dasar hitung-hitungan bea masuk ini? Saya didesak agar menyediakan invoice agar harga bea masuk tidak ada tawar menawar.
Saat ini saya bingung harus menebus 30 pasang sepatu yang masih tertahan. Semua sepatu dipesan dari penjualan online dengan sistem pre-order dan sudah dibayar lunas.
Mirza Jakasampurna, Bekasi
Perlukah Mal di Arcamanik?

Berita bahwa di Lapangan Pacuan Kuda Arcamanik akan dibangun sebuah mal, sangat mengagetkan dan membuat saya bertanya-tanya. Apa sebenarnya rencana dari Bapak Wali Kota Bandung dalam menangani ruang terbuka hijau vs bangunan komersial?
Bagaimana rencana pembangunan Bapak itu jika dikaitkan dengan rencana pembentukan ruang terbuka hijau? Bukankah Kompleks Arcamanik itu kawasan residensial yang seharusnya asri, nyaman, hijau, dan berfasilitas sesuai dengan lingkup warganya?
Mengapa alternatif dari sepinya pacuan kuda Arcamanik dengan membangun mal? Bukankah tanah terbuka dan hijau di Bandung sangat minim dan mal sudah menjamur?
Sementara itu, dua mal yang berlokasi dekat Arcamanik dan berada di jalan utama kota yang seharusnya mudah diakses oleh pembeli justru cenderung sepi. Jika maksud dibangunnya mal itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Arcamanik, keperluan sehari-hari rasanya sudah terpenuhi dengan kehadiran supermarket dan minimarket yang ada di dalam dan di sekitar kompleks.
Hal lain yang ingin saya ungkapkan adalah pentingnya arti lapangan terbuka bagi anak-anak. Sementara dari empat lapangan sepak bola, sekarang tinggal satu lapangan, yaitu yang berada di Pacuan Kuda.
Dari pengalaman pribadi saya, lapang terbuka itu merupakan tempat dan wadah yang baik dan beraspek positif, khususnya bagi anak-anak.
Namun, kami dan anak-anak Kompleks Arcamanik tidak bisa berbuat apa-apa ketika tiba-tiba dipancang tiang yang menandakan akan dibangunnya rumah di atas tanah lapangan sepak bola itu tanpa disertai kabar dan komunikasi apa pun.
Bapak selaku pembina persepakbolaan di Kota Bandung, sudah selayaknya melindungi dan mempertahankan lapangan-lapangan yang sudah ada. Apalagi dengan minimnya lapang sepak bola di sekolah-sekolah. Padahal, kecintaan anak-anak pada persepakbolaan dimulai dari ketersediaan lapangan di lingkungan tempat mereka tinggal. Begitu perlukah mal itu, Pak?
Terima kasih “PR” dan artikel digital indonesia , jaya selalu. Sumber PR
Edo Suryopratomo
Kompleks Arcamanik
Jln. Polo Air No. 8
Sukamiskin, Bandung
Telf. 022-92591197















