Buku Sekolah di SDN Bebani Orangtua
- Isi Komentar
Tanggal 14 Juli 2008 adalah hari pertama masuk sekolah setelah liburan kenaikan kelas. Banyak pengeluaran uang bagi orangtua untuk keperluan sekolah. Bagi yang berkantong tebal pasti tidak masalah, tetapi bagi yang berkantong tipis tentu bikin sakit kepala. Walaupun begitu, jika ingin anak tetap sekolah tetap diusahakan seperti mengutang.
Sebagai yang berpenghasilan rendah dengan gaji UMP, saya sangat berharap pemerintah dapat meringankan beban pengeluaran untuk biaya sekolah dengan program BOS. Seperti yang saya baca di surat kabar bahwa program BOS adalah meliputi pembiayaan buku, sumbangan pembangunan, dan lain-lain. Benarkah? Dalam dua tahun ini saya harus membelikan buku cetak pelajaran untuk tiga anak saya, untuk satu anak harus mengeluarkan uang sekitar Rp 400.000 untuk membeli buku di sekolah. Sebenarnya adakah BOS masuk ke sekolah SDN Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan?
Kalau SDN Gunung masuk dalam program BOS, kenapa orangtua murid harus membeli buku yang lumayan mahal buat ukuran saya yang berpenghasilan rendah? Pemerintah jangan hanya menghamburkan uang tapi tidak dikontrol, kalau di sekolah yang notabene tempat belajar sudah jadi tempat/ajang korupsi, anak didiknya mau jadi apa?
Buku pelajaran tahun lalu dengan buku pelajaran tahun ini sama, hanya halamannya di acak- acak dan dipindah-pindah.
Moch Abdullah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
