Anakku Andree dan Marka Jalan
- Isi Komentar
HARI Selasa malam tanggal 28 Oktober 2008 kira-kira pukul 22.30 kami menerima berita yang menggelegar. Anak sulung kami, Andree, mengalami kecelakaan lalu lintas dan sudah berada di UGD RS Immanuel. Dengan paniknya kami segera berangkat menuju RS. Sesampainya di sana kami disambut oleh beberapa orang polisi lalu lintas dan beberapa teman Andree, salah seorang menghampiri saya dengan pakaian yang penuh darah. Hati saya terasa lenyap. Mereka mengantar kami ke dalam ruangan UGD. Ketika saya membuka gorden, saya sudah melihat Andree yang sudah ditutup kain putih. Andree sudah membujur kaku di atas ranjang. Sekujur tubuh saya langsung lemas tidak berdaya melihat keadaan ini. Lengannya masih terasa hangat, matanya terbuka, saya segera berteriak memanggil dokter untuk menolong anak itu, tetapi dokter menyatakan Andree sudah tidak tertolong lagi. Secara spontan saya berlari untuk mencari penabraknya, reaksi ini ditanggapi oleh aparat yang berada di sana. Beliau menanggapi bahwa Andree mengalami kecelakaan tunggal bukan tabrakan.
Malam itu Andree mengendarai sepeda motor melintasi Jalan Pungkur menuju ke arah ITC Kebon Kalapa, hujan rintik-rintik. Tepat di depan rumah nomor 43 Andre menabrak tembok pemisah jalan. Menurut saksi mata, dia dan motornya terbang ke arah toko yang berada di sebelah kiri jalan. Dalam hitungan detik, Andree terpelanting dalam posisi telungkup ke aspal yang keras. Motornya mendarat tidak jauh dari tempat Andree jatuh. Nyawanya tidak tertolong lagi karena luka benturan kepalanya terlalu keras sehingga terjadi pendarahan yang hebat. Kami amat berduka. Musibah ini tidak dapat kami tolak. Tuhan telah mengizinkan hal ini menimpa keluarga kami, pasti Tuhan punya rencana dalam peristiwa ini.
Ketika handai tolan datang melayat, kami baru tahu bahwa di tempat yang sama ternyata telah amat sering terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh kurang jelasnya marka jalan dan rambu-rambu yang seharusnya ada di setiap ujung tembok pemisah jalan. Ternyata sebelum Andree mengalami kecelakaan fatal di sana, sebelumnya telah terjadi banyak kecelakaan fatal juga. Dengan dimuatnya surat ini, kami berharap petugas instansi terkait bisa terketuk hatinya untuk segera memasang rambu-rambu untuk mendukung keberadaan tembok pemisah jalan itu sehingga kecelakaan fatal yang menimpa Andree adalah kecelakaan yang terakhir yang terjadi di sana. Menurut teman kami, besoknya setelah Andree, ada lagi korban lain yang menabrak tembok itu dan luka parah.
Sekarang Andree sudah kembali ke rumah Bapa di Surga. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang sudah membantu. Semoga Tuhan membalas semuanya. Selamat jalan Andree…. Kami semua akan selalu mengenangmu sebagai suami, anak menantu, koko yang amat baik. Kepada “PR”, kami mengucapkan terima kasih atas dimuatnya surat ini.
Keluarga Ronny Kurniawan
Emung 40/36b
Bandung
[ Sumber : pikiran-rakyat ]

